Feeds:
Tulisan
Komentar

Anak adalah aset bagi orang tua dan di tangan orangtualah anak-anak tumbuh dan menemukan jalan-jalannya. Saat si kecil tumbuh dan berkembang, ia begitu lincah dan memikat. Anda begitu mencintai dan bangga kepadanya. Namun mungkin banyak dari kita para orangtua yang belum menyadari bahwa sesungguhnya dalam diri si kecil terjadi perkembangan potensi yang kelak akan berharga sebagai sumber daya manusia.

Dalam lima tahun pertama yang disebut eThe Golden Yearsf , seorang anak mempunyai potensi yang sangat besar untuk berkembang. Pada usia ini 90% dari fisik otak anak sudah terbentuk. Karena itu, di masa-masa inilah anak-anak seyogyanya mulai diarahkan. Karena saat-saat keemasan ini tidak akan terjadi dua kali, sebagai orang tua yang proaktif kita harus memperhatikan benar hal-hal yang berkenaan dengan perkembangan sang buah hati, amanah Allah.

Urgensi mendidik anak sejak dini juga banyak disebutkan dalam Al Qur’an dan Al Hadits antara lain :

@

1.  Terjemahan QS. At Tahrim (66) ayat 6

“Hai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang…”

Memelihara, menurut sayyidina Ali: didik dan ajarilah, sedangkan menurut sayyidina Umar: melarang mereka dari apa yang dilarang Allah dan memerintahkan mereka apayang diperintahkan Allah.

2.  Terjemahan Al Hadits

“Setiap yang dilahirkan dalam keadaan suci, maka kedua orang tuanya yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani, atau Majusi”.

Hadits: seorang bayi mengencingi Rasulullah.

Di dalam buku “Pendidikan Anak Dalam Islam” karangan Abdullah Nashih Ulwan disebutkan bahwa Rasulullah SAW sangat memperhatikan tentang 7 (tujuh) segi dalam mendidik anak, yaitu :

1.  Segi Keimanan

-   menanamkan prinsip ketauhidan, mengokohkan fondasiiman ;

-   mencari teman yang baik ;

-   memperhatikan kegiatan anak.

2.  Segi Moral

-   kejujuran, tidak munafik ;

-   menjaga lisan dan berakhlak mulia

3.  Segi Mental dan Intelektual

-   mempelajari fardhu ‘ain dan fardhu kifayah ;

-   mempelajari sejarah Islam ;

-   menyenangi bacaan bermutu yang dapat meningkatkan kualitas diri ;

-   menjaga diri dari hal-hal yang merusak jiwa dan akal

4.  Segi Jasmani

-   diberi nafkah wajib, kebutuhan dasar anak seperti makanan, tempat tinggal, kesehatan, pakaian danpendidikan ;

-   latihan jasmani, berolahraga, menunggang kuda, berenang, memanah, dll ;

-   menghindarkan dari kebiasaan yang merusak jasmani

5.  Segi Psikologis

-   gejala malu, takut, minder, manja, egois dan pemarah

6.  Segi Sosial

-   menunaikan hak orang lain dan setiap yang berhak dalam kehidupan ;

-   etika sosial anak

7.  Segi Spiritual

-   Allah selamanya mendengar bisikan dan pembicaraan, melihat setiap gerak-geriknya dan mengetahui apa yang dirahasiakan ;

-   memperhatikan khusu’, taqwa dan ibadah

Jika begitu banyak yang harus kita ajarkan pada anak, kapan waktu terbaik untuk memulai pendidikan kepadabuah hati ?

Simaklah beberapa hasil penelitian baru berikut ini :

1.  Fakta tentang otak :

a.   Saat lahir, bayi punya 100 miliar sel otak yang belum tersambung. Pada usia 0-3 tahun terdapat 1000 triliun koneksi (sambungan antarsel). Pada saat inilah anak-anak bisa mulai diperkenalkan berbagai hal dengan cara mengulang-ulang :

-   memperdengarkan bacaan Al Qur’ an ;

-   Bahasa Asing seperti bahasa Inggris ;

-   memperkenalkan nama-nama benda dengan cara bermaindan menunjukkan gambar ;

-   memperkenalkan warna dengan menunjukkan kepadanya dalam bentuk benda yang dia kenal, warna-warna cerah di kamarnya dan gambar ;

-   memperkenalkan aroma buah melalui buku ;

-   membacakan cerita atau dongeng

Pada usia 6 tahun, koneksi yang terus diulang (mengalami pengulangan – pengulangan) akan

menjadi permanen. Sedangkan koneksi yang tidak digunakan akan dipangkas alias dibuang.

Oleh karenanya, usia sebelum 6 tahun adalah saat yang tepat untuk mengoptimalkan daya

serap otak anak agar tidak terpangkas percuma.

b.   Otak yang belum matang rentan terhadap trauma, baik terhadap ucapan yang keras maupun tindakan yang menyakitkan. Susunan otak terbentuk dari pengalaman. Jika pengalaman anak takut dan stress, maka respons otak terhadap dua hal itulah yang akan menjadi arsitek otak sehingga dapat merubah struktur fisik otak. Itulah mengapa kita harus menghindarkan diri dari memarahi anak atau memukulnya. Jika anak kita melakukan kesalahan atau melakukan sesuatu yang tidak sopan, sebaiknyalah kita mulai mengajarkannya mana yang betul dan sopan santun dengan cara yang arif serta penuh kesabaran. Kita dapat mencontoh bagaimana Rasulullah saw. bersikap sangat penuh kasih sayang terhadap anak-anak.

c.    Otak terdiri dari dua belahan yaitu kanan dan kiri yang memiliki fungsi yang berbeda namun saling mendukung.

-   Pekerjaan otak kiri berhubungan dengan fungsi verbal, temporal, logis, analitis, rasional serta kegiatan berpola.

-   Pekerjaan otak kanan berhubungan dengan fungsi kreatif dan kemampuan bekerja dengan gambaran (visual) dan berfikir intuitif, abstrak dan non-verbal serta kemampuan taktil/motorik halus pada tangan, termasuk pembentukan akhlak dan moral.

Sistem pendidikan kita maupun ilmu pengetahuan pada umumnya cenderung kurang memperhatikan kepandaian yang tak terucapkan. Jadi, masyarakat modern cenderung menganaktirikan belahan otak kanan.

Menurut Bob Eberle, seorang ahli pendidikan, “prestasi pikiran manusia memerlukan kerja yang terpadu antara belahan kiri dan otak kanan”. Kalau tujuan kita adalah mengembangkan pribadi yang sehat dan jika kita ingin menumbuhkan kreativitas secara penuh, maka diperlukan pengajaran untuk menuju keseimbangan antara fungsi kedua belahan otak itu.

2.  Fakta tentang stress

a.   Anak yang mengalami stress pada usia kritis 0-3 tahun akan menjadi anak yang hiperaktif, cemas danbertingkah laku seenaknya.

b.   Anak dari lingkungan stress tinggi mengalami kesulitan konsentrasi dan kendali diri.

c.   Cara orang tua berinteraksi dengan anak di awal kehidupan akan membuat dampak pada perkembangan emosional, kemampuan belajar dan bagaimana berfungsi di kehidupan yang akan datang.

3.  Ciri-ciri anak pada milenium kedua :

-    mampu berpikir cepat ;

-    mampu beradaptasi dengan cepat dan benar ;

-    memiliki keimanan kuat sebagai filter ;

-    menguasai bahasa dunia ;

-    mampu menyelesaikan masalah dengan cepat ;

-    orang tua mempunyai 7 kebiasaan efektif.

Dilihat dari berbagai hasil penelitian di atas dapat diperoleh gambaran tentang waktu terbaik dalam memulai mendidik anak yaitu sedini mungkin. Juga bagaimana seharusnya sikap kita dalam menghadapi anak agar otaknya tidak mengalami trauma, serta dapat lebih meyakinkan kita lagi sebagai orang tua untuk terus menerus menambah ilmu agar dapat membantu anak mengembangkan potensi dirinya secara maksimal.

Satu pesan sederhana dalam mendidik anak, yang mungkin belum kita sadari sepenuhnya. Betapa banyak yang dapat kita ajarkan kepada anak kita tiap hari, hanya dengan berada di dekatnya. Dengan mengasuh, bermain dan bercakap-cakap dengan bayi kita yang mungil, kita bisa menjadi guru pertama bagi si kecil. Jangan lupa anak tumbuh dan berkembang sangat pesat, pakailah prinsip e it’s now or never e (kalau tidak sekarang berarti tidak sama sekali) dalam mendidik anak.

Wallahu a’lam bi showwab.
Ya Allah berikanlah berkat dan kemampuan kepada kami untuk mendidik, merawat dan mengasuh anak-anak kami. Amiin.

oleh: Emmy Soekresno, S.Pd.

Disampaikan pada

SEMINAR HARI ANAK NASIONAL
Jumat 28 Juli 2000
Auditorium Gedung B Lantai 2, Departemen Keuangan

Hore,
Hari Baru!

Teman-teman.

Salah satu keluhan manusia paling umum adalah tentang betapa murahnya kita dibayar. Keluhan ini muncul terutama ketika surat kenaikan gaji rutin kita terima. Betapa kenaikan take-home-pay itu tidak bisa mengimbangi kenaikan kebutuhan hidup kita. Meskipun komplain itu tidak selamanya jelek. Namun, untuk soal gaji kita perlu bertanya lagi; benarkah kita ini dibayar terlalu murah?
Ada sahabat yang getol mengomel tentang gaji. Suatu kali, kami  berkesempatan makan siang setelah sekian lama tidak berjumpa. Komplain itu masih menjadi bagian dari dirinya. Lalu saya bertanya; “Memangnya elo digaji berapa?” Sebuah pertanyaan untung-untungan. Tidak dijawab juga tidak apa-apa.
“Yaaa, sekitar segini lah.” Saya terbelalak karena dia begitu terbuka dengan gajinya, dan juga karena menurut hemat saya gajinya sudah tergolong besar untuk ukuran ekerjaan dan jabatan yang dia sandang.
“Pren, elu tahu rata-rata pendapatan orang Indonesia itu hanya sekitar $1,600 setahun. Artinya, cuma sekitar satu setengah juta setiap bulan. Lha, elo sudah lebih dari sepuluh kali lipat dari itu.”
“Heh, elo jangan anggap gue pekerja kelas bawah gitu ye. Ya nggak berlaku lah rata-rata pendapatan semua penduduk termasuk kelas pekerja kasar dikampung-kampung dan pelosok desa tuch!” dia menukas dengan nada sengit.
“Oke, oke,” saya mengangkat tangan. “Tapi, rata-rata pendapatan orang yang kerja di Jakarta pun cuma sekitar $5,167, Man. Empat setengah jutaan doang.” Mata saya tertuju kearah piring. Tapi saya tahu teman saya ini melotot. “Gaji elu masih berkali-kali lipat dari itu.”
“Heh, boy, udah gua bilang jangan pake rata-rata dong. Kemampuan gue juga kan diatas rata-rata!” katanya. “Dan elo juga sudah dibayar jaoooh diatas rata-rata,” tangkis saya.

 

“Ah, susah kali ngomong sama kau tuch!” Saya tidak kaget ketika dia menggebrak meja. Sifat aslinya keluar kalau sedang terdesak. “Orang harus dibayar sesuai dengan kemampuan dan kontribusinya masing-maaaasing!” Gayanya mirip Giant dalam film Dora Emon.
“Wah, kalau yang satu itu gue setuju abis, Man. Masalahnya, elu udah dibayar tinggi, masih komplen juga.” Saya bilang. “Atas dasar apa elu merasa pantas mendapatkan bayaran lebih tinggi?”
“Pertama, teman gue.” katanya “Diperusahaan lain dibayar lebih tinggi, padahal kemampuan gue nggak kalah dari dia.” lanjutnya. “Kedua, gue udah kerja disini lebih dari lima tahun. Maasak, cuma segini-segini doang!”
“Menurut gue,” saya meneguk teh botol. “ada satu cara yang lebih objektif untuk menentukan apakah elo dibayar terlalu murah atau tidak.”

“Gimana?”
“Caranya,” saya berhenti sejenak. “Elu harus menentukan satu hal. Yaitu; kalau elu tidak bekerja diperusahaan manapun, elu bisa mendapatkan penghasilan berapa?” Sesendok sayur bayam masuk kemulut saya. “Nah, kalau elu dibayar dibawah angka itu, maka elu dibayar terlalu murah. Jika tidak, artinya elu sudah mendapatkan bayaran yang layak.”
Saya tahu bahwa gagasan ini agak kurang lazim. Tetapi anehnya, meskipun kita tidak puas dengan bayaran yang kita terima, kita masih juga bercokol disitu. Pertanda bahwa sesungguhnya kita tidak memiliki dasar yang kuat untuk menuntut bayaran lebih dari itu. Sebab, jika kita benar-benar memiliki alternatif lain yang jauh lebih baik, tidaklah mungkin kita berdiam diri.
Mungkin, hengkang ketempat lain bisa jadi pilihan. Tidak aneh. Kalau perusahaan pesaing merekrut kita, pastilah mereka bersedia membayar ekstra dimuka. Karena, itu bagian dari strategy persaingan bisnis mereka. Kadang, perusahaan lama melakukan ‘buy back’ juga. Tapi hal ini tidak selalu bisa menggambarkan kemampuan dan kelayakbayaran kita sebagai individu secara utuh. Sebab, ada ‘benchmark’ disetiap industry. Artinya, selalu ada saat dimana gaji kita tidak bisa naik lagi kecuali kita layak untuk dipromosi kepada jabatan dan tugas yang lebih tinggi. Makanya, tidak aneh jika ada karyawan yang direkrut dengan bayaran awal yang tinggi, tapi kenaikan gaji berkalanya tak terlalu bermakna.
Sebaliknya, jika kita bisa menentukan; ‘berapa pendapatan yang bisa kita hasilkan jika tidak bekerja untuk perusahaan manapun’. Maka kita akan bisa menentukan ‘nilai’ kita yang sesungguhnya. Misalnya, jika kita bisa menghasilkan 30 juta sebulan, maka kita bisa bernegosiasi dengan manajemen untuk mendapatkan bayaran yang sekurang-kurangnya setara dengan itu. Mengapa kita harus bertahan disana, jika bayarannya jauh lebih rendah dari yang bisa kita hasilkan sendiri? Namun, jika perusahaan sudah membayar kita lebih tinggi dari itu; kita tahu apa artinya itu, bukan?.
Sahabat saya menggugat: “Kalau gua bisa kerja sendiri ngapain gua disini? Dari dulu gua pasti sudah berhenti! Gua disini, karena gua nggak bisa kerja sendiri!” Betul. Disitulah point utamanya. Kita  menyandarkan diri kepada perusahaan itu, tanpa ada alternatif lain yang lebih baik. Jika demikian situasinya, bukankah akan lebih baik jika kita berfokus kepada kontribusi yang bisa kita berikan ditempat  kerja? Tanpa harus terlebih dahulu berhitung-hitung soal gaji. Sebab, jika kita hanya bisa menjadi karyawan dengan prestasi rata-rata, mengapa perusahaan harus mengistimewakan kita?

 

Sebaliknya, jika memang kita berprestasi sangat tinggi; tidaklah mungkin perusahaan menyia-nyiakan kita. Bahkan, kenaikan gaji ‘tidak lazim’ mungkin bisa kita terima tanpa terduga. Dan, jikapun perusahaan tempat kerja kita benar-benar menutup mata; masih banyak perusahaan baik yang bersedia mempekerjakan kita, dengan bayaran yang sepantasnya. Asal kita bisa menunjukkan ’siapa sesungguhnya’ kita ini.
Hore,

Hari Baru!

Dadang Kadarusman

 

http://www.dadangkadarusman.com/

Catatan Kaki: Komplain itu menghabiskan energi. Lakukan, hanya jika memang itu cukup berharga.

Rasa Minder Berat !

Andrew Elliot merasa minder berat, karena walaupun sudah lebih dari 25
tahun lulus dari univerversitas bergengsi Harvard, tetapi kenyataannya
tetap saja belum bisa memiliki apapun juga yang bisa ia banggakan. Hal
inilah yang membuat dia jadi takut setengah mati untuk menghadiri pesta
reuni teman-teman sekelasnya.

Betapa tidak, matan teman sekamarnya saja sudah menjadi calon menteri
luar negeri, yang satunya jadi dekan, bahkan seorang lagi yang
dahulunya dicemohkan dan diremehkan telah mencapai puncak prestari
sebagai pemain pianis yang kesohor. Hal inilah yang membuat ia merasa
gagal total dan minder berat untuk menghadiri acara pesta reuni
tersebut. Bahkan kalau ia jujur, ia merasa iri melihat kesuksesan dari
teman-teman sekelasnya.

Hal tersebut diatas inilah yang diceritakan dalam Novel -The Class-
hasil karya dari Erich Segal. Walaupun demikian di akhir cerita,
akhirnya ia mengetahui bahwa apa yang ia lihat diluarnya tidaklah
sebaik dan seindah seperti yang diduga oleh kebanyakan orang. Ternyata
mereka juga memiliki riwayat yang tragis maupun kegagalan-kegagalan
lainnya yang tidak terlihat oleh orang luar. Masalahnya yang kita lihat
hanya mobil mewah maupun gedungnya saja yang mentereng maupun karier
jabatannya.

Misalnya dalam kehidupan sang pemain pianis; kehidupannya tidaklah
semanis seperti kariernya. Ia kecanduan obat-obatan, bahkan akhirnya
salah satu tangannya mengalami disfungsi motoris sehingga tidak bisa ia
kendalikan lagi. Sedangkan temannya yang menjadi politikus di gedung
putih tidak mampu mempertahankan perkawinannya sehingga akhirnya ia
bunuh diri.

Tidak bisa dipungkiri bahwa secara langsung atau tidak langsung, kita
sendiri sering mengajukan pertanyaan: Kenapa ia lebih sukses di dalam
kehidupannya daripada saya? Bahkan seringkali pula kita disindir agar
mau melihat keatas “Lihat tuh tetangga kita; mereka sudah punya mobil
BMW, sedang Loe masih tetap azah naik angkot! Apakah kagak malu!”

Disamping itu hampir setiap jam kita di jejali dengan film-film
sinetron dimana kehidupan glamour dan mewah sudah merupakan thema utama
dari film-film tersebut. Kesuksesan manusia sekarang ini hanya diukur
melalui harta atau jabatan yang mereka miliki. Dimana Loe kere dan
tidak memiliki jabatan berarti Loe ini Mr Nobody!

Memang sudah merupakan fakta nyata, bahwa pada saat kita terpuruk,
secara langsung atau tidak langsung akan timbul pertanyaan: “Kenapa
hidup Gw jadi begini? Dimana letak kesalahan Gw? Kenapa Tuhan lebih
memberkati orang kapir dan para koruptor daripada Gw? Sehingga
boro-boro bisa beli Nasi Goreng udah bisa makan siang Nasi GOCENG (lim
ribu) azah udah bagus!

Beda dengan Prabowo Subianto dimana konon nilai harga kudanya saja
sudah mencapai tiga miliar per ekor. Ia memiliki 84 ekor kuda silahkan
hitung sendiri, baru nilai harga kudanya saja sudah berapa? (sumber
Kompas) Sedang Gw terkadang untuk biaya angkot tiga ribu saja kagak
punya.

Pertama perlu diketahui walaupun kita bisa mengetahui, bahwa harta
kekayaan dari Prabowo itu Rp 1,7 triliun, hal ini tetap tidak akan bisa
merubah nasib kita. Uang Prabowo bukanlah uang saya, nasib dia bukanlah
nasib saya. Maka dari itu saya selalu berusaha untuk mensyukuri dengan
apa yang saya miliki dan dapatkan.

Berkat dan anugerah yang paling indah yang saya dapatkan setiap hari
ialah dimana saya masih diberi kesempatan untuk dapat menikmati
matahari dipagi hari. Berapa juta orang di dunia ini yang setiap
harinya berdoa dan mengharapkan agar mereka masih bisa diberikan
kesempatan untuk hidup satu hari lebih lama lagi, karena mereka berada
dalam keadaan sekarat! Percayalah berkat ini ada jauh lebih indah dan
tidak bisa dinilai dengan uang maupun jabatan sehebat dan setinggi
apapun juga.

Mang Ucup (mangucup.org)

NEOLIBERALISME. Tiba-tiba saja mencuat menjadi wacana hangat di tengah-tengah masyarakat. Pemicunya adalah munculnya nama Boediono sebagai calon wakil presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pemilihan presiden yang akan datang. Menurut para penentang mantan Gubernur Bank Indonesia tersebut, Boediono seorang ekonom yang menganut paham ekonomi neoliberal, sebab itu ia sangat berbahaya bagi masa depan perekonomian Indonesia.

Tulisan ini tidak bermaksud mengupas Boediono atau paham ekonomi yang dianutnya. Tujuan tulisan ini adalah untuk menguraikan pengertian, asal mula, dan perkembangan neoliberalisme secara singkat. Saya berharap, dengan memahami neoliberalisme secara benar, silang pendapat yang berkaitan dengan paham ekonomi ini dapat dihindarkan dari debat kusir. Sebaliknya, para ekonom yang jelas-jelas mengimani neoliberalisme, tidak secara mentah-mentah pula mengelak bahwa dirinya bukan seorang neoliberalis.

Sesuai dengan namanya, neoliberalisme adalah bentuk baru dari paham ekonomi pasar liberal. Sebagai salah satu varian dari kapitalisme yang terdiri dari merkantilisme, liberalisme, keynesianisme, neoliberalisme dan neokeynesianisme, neoliberalisme adalah sebuah upaya untuk mengoreksi kelemahan yang terdapat dalam liberalisme.

Sebagaimana diketahui, dalam paham ekonomi pasar liberal, pasar diyakini memiliki kemampuan untuk mengurus dirinya sendiri. Karena pasar dapat mengurus dirinya sendiri, maka campur tangan negara dalam mengurus perekonomian tidak diperlukan sama sekali. Tetapi setelah perekonomian dunia terjerumus ke dalam depresi besar pada tahun 1930-an, kepercayaan terhadap paham ekonomi pasar liberal merosot secara drastis. Pasar ternyata tidak hanya tidak mampu mengurus dirinya sendiri, tetapi dapat menjadi sumber malapetaka bagi kemanusiaan. Depresi besar 1930-an tidak hanya ditandai oleh terjadinya kebangkrutan dan pengangguran massal, tetapi bermuara pada terjadinya Perang Dunia II.

Menyadari kelemahan ekonomi pasar liberal tersebut, pada September 1932, sejumlah ekonom Jerman yang dimotori oleh Rustow dan Eucken mengusulkan dilakukannya perbaikan terhadap paham ekonomi pasar, yaitu dengan memperkuat peranan negara sebagai pembuat peraturan. Dalam perkembangannya, gagasan Rostow dan Eucken diboyong ke Chicago dan dikembangkan lebih lanjut oleh Ropke dan Simon.

Sebagaimana dikemas dalam paket kebijakan ekonomi ordoliberalisme, inti kebijakan ekonomi pasar neoliberal adalah sebagai berikut: (1) tujuan utama ekonomi neoliberal adalah pengembangan kebebasan individu untuk bersaing secara bebas-sempurna di pasar; (2) kepemilikan pribadi terhadap faktor-faktor produksi diakui dan (3) pembentukan harga pasar bukanlah sesuatu yang alami, melainkan hasil dari penertiban pasar yang dilakukan oleh negara melalui penerbitan undang-undang (Giersch, 1961). Tetapi dalam konferensi moneter dan keuangan internasional yang diselenggarakan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di Bretton Woods, Amerika Serikat (AS) pada 1944, yang diselenggarakan untuk mencari solusi terhadap kerentanan perekonomian dunia, konsep yang ditawarkan oleh para ekonom neoliberal tersebut tersisih oleh konsep negara kesejahteraan yang digagas oleh John Maynard Keynes.

Sebagaimana diketahui, dalam konsep negara kesejahteraan atau keynesianisme, peranan negara dalam perekonomian tidak dibatasi hanya sebagai pembuat peraturan, tetapi diperluas sehingga meliputi pula kewenangan untuk melakukan intervensi fiskal dan moneter, khususnya untuk menggerakkan sektor riil, menciptakan lapangan kerja dan menjamin stabilitas moneter. Terkait dengan penciptaan lapangan kerja, Keynes bahkan dengan tegas mengatakan: “Selama masih ada pengangguran, selama itu pula campur tangan negara dalam perekonomian tetap dibenarkan.”

Namun kedigdayaan keynesianisme tidak bertahan lama. Pada awal 1970-an, menyusul terpilihnya Reagen sebagai presiden AS dan Tatcher sebagai Perdana Menteri Inggris, neoliberalisme secara mengejutkan menemukan momentum untuk diterapkan secara luas. Di Amerika hal itu ditandai dengan dilakukannya pengurangan subsidi kesehatan secara besar-besaran, sedang di Inggris ditandai dengan dilakukannya privatisasi BUMN secara massal.

Selanjutnya, terkait dengan negara-negara sedang berkembang, penerapan neoliberalisme menemukan momentumnya pada akhir 1980-an. Menyusul terjadinya krisis moneter secara luas di negara-negara Amerika Latin. Departemen Keuangan AS bekerja sama dengan Dana Moneter Internasional (IMF), merumuskan sebuah paket kebijakan ekonomi neoliberal yang dikenal sebagai paket kebijakan Konsensus Washington. Inti paket kebijakan Konsensus Washington yang menjadi menu dasar program penyesuaian struktural IMF tersebut adalah sebagai berikut: (1) pelaksanaan kebijakan anggaran ketat, termasuk kebijakan penghapusan subsidi; (2) liberalisasi sektor keuangan; (3) liberalisasi perdagangan; dan (4) pelaksanaan privatisasi BUMN.

Di Indonesia, pelaksanaan agenda-agenda ekonomi neoliberal secara masif berlangsung setelah perekonomian Indonesia dilanda krisis moneter pada 1997/1998 lalu. Secara terinci hal itu dapat disimak dalam berbagai nota kesepahaman yang ditandatatangani pemerintah bersama IMF. Setelah berakhirnya keterlibatan langsung IMF pada 2006 lalu, pelaksanaan agenda-agenda tersebut selanjutnya dikawal oleh Bank Dunia, ADB dan USAID.

Menyimak uraian tersebut, secara singkat dapat disimpulkan, sebagai bentuk baru liberalisme, neoliberalisme pada dasarnya tetap sangat memuliakan mekanisme pasar. Campur tangan negara, walau pun diakui diperlukan, harus dibatasi sebagai pembuat peraturan dan sebagai pengaman bekerjanya mekanisme pasar. Karena ilmu ekonomi yang diajarkan pada hampir semua fakultas ekonomi di Indonesia dibangun di atas kerangka kapitalisme, maka sesungguhnya sulit dielakkan bila 99,9 persen ekonom Indonesia memiliki kecenderungan untuk menjadi penganut neoliberalisme.

Wallahua´lambishawab.

Oleh : Revrisond Baswir 
Penulis adalah Peneliti Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM (source : Milis FPK)

10 kebiasaan buruk yang merugikan otak kita

 

  1. Tidak sarapan pagi

Orang yang tidak sarapan pagi kandungan gula darahnya jadi rendah. Ini mengakibatkan tidak cukupnya asupan nutrisi ke otak yang menyebabkan degenerasi fungsi otak.

 

  1. Terlalu banyak makan

Terlalu banyak makan mengakibatkan pengerasan saluran darah di otak, yang selanjutnya mengakibatkan menurunnya daya pikir.

 

  1. Merokok

Merokok mengakibatkan otak mengecil dan ini bisa menyebabkan penyakit Alzheimer.

 

  1. Mengkonsumsi gula kelewat banyak

Gula yang kelewat banyak berarti menurunnya daya serap protein dan nutrisi penting sehingga kita menderita kurang gizi dan mengganggu pertumbuhan otak.

 

  1. Pencemaran udara

Otak adalah konsumen oksigen terbesar di tubuh kita. Menghirup udara tercemar mengurangi asupan oksigen ke otak, sehingga kerja otak kurang effisien.

 

  1. Kurang tidur

Tidur memberi kesempatan otak kita untuk beristirahat. Kurang tidur secara terus menerus dalam waktu lama akan mempercepat kematian sel-sel otak.

 

  1. Tidur menutup kepala

Tidur dengan kepala ditutup meningkatkan konsentrasi CO2 dan menurunkan konsentrasi O2 dan ini merusak otak.

 

  1. Banyak berpikir waktu sakit

Bekerja keras atau belajar waktu sakit tidak saja mengurangi efektivitas otak tapi juga merusak otak.

 

  1. Tak adanya rangsangan berpikir

Berpikir adalah cara terbaik melatih otak. Kalau otak dibiarkan tanpa rangsangan berpikir, lama kelamaan dia akan mengecil.

 

  1. Jarang bicara

Pembicaraan bermutu akan meningkatkan efisiensi otak.

 

 

 

(Sumber:knowledgebase-script.com)

” 5 Alasan sederhana kenapa kebanyakan orang tidak akan pernah mencapai kekayaan… dan bagaimana memastikan anda melakukan hal hal yang diperlukan! “

 

Seorang bernama Mike Litman, pernah meneliti bagaimana cara menjadi kaya dengan melakukan wawancara kepada 20 Milyuner yang kaya karena usaha sendiri ( bukan karena warisan ). Setelah Mike melakukan wawancara, beliau menemukan, ada beberapa rahasia yang membuat mereka kaya raya sementara orang lain sibuk berjuang.

 

Ternyata sangat sederhana.

 

Berikut adalah 5 alasan sederhana kenapa kebanyakan orang tidak akan pernah

kaya dan bagaimana memastikan anda melakukan ke 5 hal ini:

 

~=~=~=~=~=~=~=~=~=~=~

ALASAN NO #1 – Menunggu untuk mulai:

~=~=~=~=~=~=~=~=~=~=~

 

Kebanyakan orang tidak ingin menunggu untuk sukses. Namun, pada saat yang sama, mereka menunggu terlalu lama untuk memulai di jalan kesuksesan.

Anda bisa melihat masalahnya kan?

 

Semakin lama anda menunggu untuk memulai, semakin lama anda akan mendapatkan

hasil, kesuksesan, dan gaya hidup yang anda inginkan.  Banyak orang menunggu segala sesuatu menjadi sempurna terlebih dahulu sebelum mereka memulai. Oleh karena itu, mereka tidak pernah memulai dan tidak pernah mencapai sesuatu yang berarti.  Tidak ada pertandingan yang pernah dimenangkan atau diakhiri oleh seseorang yang tidak pernah meninggalkan garis start!

 

Jangan menunggu untuk memulai. Mulai sekarang juga berjalan di jalan kesuksesan anda.

 

~=~=~=~=~=~=~=~=~=~=~

ALASAN NO #2 – Buta huruf secara finansial:

~=~=~=~=~=~=~=~=~=~=~

 

Hal penting dalam kekayaan adalah mengerti perbedaan dari aset dan hutang.  Aset adalah mendatangkan uang ke kantong anda.  Hutang mengeluarkan uang dari kantong anda.  Banyak orang mengira bahwa rumah mereka, mobil mereka, dan kepemilikan yang lain adalah asset. Tetapi, sebenarnya adalah bahwa dalam banyak kesempatan,

semuanya itu membuat uang keluar dari kantong anda. Semuanya itu menyebabkan

ada mengeluarkan uang untuk pembiayaan.

 

Semuanya itu tidak membuat anda menghasilkan uang. Oleh karena itu, hal yang sebenarnya, semuanya itu adalah merupakan beban (hutang).  Semuanya itu mengambil uang anda keluar setiap bulannya.  Ketika anda mempunyai lebih banyak uang yang datang dari aset yang sesungguhnya daripada yang anda keluarkan untuk membayar beban, anda akan menjadi bebas secara finansial. Hanya ada 1 cara untuk melakukan nya.

Yang membawa kita ke hal ketiga…

 

~=~=~=~=~=~=~=~=~=~=~

ALASAN NO #3 – Fokus pada penghasilan yang mendatar daripada penghasilan yang pasive.

~=~=~=~=~=~=~=~=~=~=~

 

Salah satu dari Milyuner yang diwawancarai menyampaikan secara sederhana, “Jika anda tidak menghasilkan uang ketika anda tidur, maka anda tidak akan kaya.” Penghasilan yang mendatar adalah apa yang anda dapatkan dari pekerjaan anda. Anda bekerja selama 1 jam dan mendapatkan bayaran hanya satu kali saja dari pekerjaan satu jam itu, hanya itu.

 

Penghasilan pasive adalah ketika anda bekerja sekali namun secara terus menerus dibayar lagi dan lagi dari pekerjaan yang TIDAK lagi anda lakukan.  Berinvestasi atau menciptakan aset yang sebenarnya yang menghasilkan penghasilan pasive untuk anda adalah tiket menuju kemakmuran.

 

~=~=~=~=~=~=~=~=~=~=~

ALASAN NO #4 – Tidak mengerti atau tidak menggunakan sistem untuk menghasilkan uang.

~=~=~=~=~=~=~=~=~=~=~

 

Sebuah SYSTEM yang menghasilkan uang adalah sesuatu yang mengjinkan anda untuk mendapatkan uang tanpa usaha anda sendiri. Dengan kata lain, Itu adalah cara yang otomatis untuk menghasilkan uang.  Semua Aset yang sejati adalah hanya sebuah “sistem” dengan sendirinya.

 

Sekali anda menciptakan atau berinvestasi pada sebuah sistem yang sederhana untuk menghasilkan uang, maka tidak ada batasan pada seberapa banyak uang yang bisa anda hasilkan.

Menjadi seorang ahli dan sistem uang dapat membawa kekayaan lebih dari yang anda impikan.

 

 

 

~=~=~=~=~=~=~=~=~=~=~

ALASAN NO #5 – Tidak Cukup GIGIH atau SABAR:

~=~=~=~=~=~=~=~=~=~=~

 

Untuk menyelesaikan sebuah pertandingan anda harus meninggalkan garis start dan mengikuti garis menuju ke batas Finish.  Kebanyakan orang, mencipatakan kegagalan mereka sendiri dengan apakah tidak pernah memulai atau tidak bertahan, atau keduanya. :-) Anda HARUS tidak hanya memulai, namun juga bertahan terus.  Hal ini kelihatan nya jelas, tetapi adalah penyebab terbesar dari kegagalan. Hanya dengan bergabung dalam sebagian kecil orang yang mau melakukan ke  5 hal diatas, maka anda akan mendapatkan kesempatan yang sangat besar untuk sukses dan kaya.

 

Sebenarnya sangat sederhana… putuskan untuk melakukan hal hal diatas, dan anda juga bisa menjadi kaya. Kalau anda tidak lakukan hal diatas, maka anda akan menjadi seperti kebanyakan orang yang tidak sukses.

 

Putuskan sekarang juga untuk menjadi ahli pada hal hal yang disebutkan diatas, dan mulai perjalanan menuju kesuksesan anda sekarang. Dan tetap bertahan dan lihat perbedaan yang dilakukan nya.

 

 

Anak adalah aset bagi orang tua dan di tangan orangtualah anak-anak tumbuh dan menemukan jalan-jalannya. Saat si kecil tumbuh dan berkembang, ia begitu lincah dan memikat. Anda begitu mencintai dan bangga kepadanya. Namun mungkin banyak dari kita para orangtua yang belum menyadari bahwa sesungguhnya dalam diri si kecil terjadi perkembangan potensi yang kelak akan berharga sebagai sumber daya manusia.

Dalam lima tahun pertama yang disebut eThe Golden Yearsf , seorang anak mempunyai potensi yang sangat besar untuk berkembang. Pada usia ini 90% dari fisik otak anak sudah terbentuk. Karena itu, di masa-masa inilah anak-anak seyogyanya mulai diarahkan. Karena saat-saat keemasan ini tidak akan terjadi dua kali, sebagai orang tua yang proaktif kita harus memperhatikan benar hal-hal yang berkenaan dengan perkembangan sang buah hati, amanah Allah.

Urgensi mendidik anak sejak dini juga banyak disebutkan dalam Al Qur’an dan Al Hadits antara lain :

@

1.  Terjemahan QS. At Tahrim (66) ayat 6

“Hai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang…”

Memelihara, menurut sayyidina Ali: didik dan ajarilah, sedangkan menurut sayyidina Umar: melarang mereka dari apa yang dilarang Allah dan memerintahkan mereka apayang diperintahkan Allah.

2.  Terjemahan Al Hadits

“Setiap yang dilahirkan dalam keadaan suci, maka kedua orang tuanya yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani, atau Majusi”.

Hadits: seorang bayi mengencingi Rasulullah.

Di dalam buku “Pendidikan Anak Dalam Islam” karangan Abdullah Nashih Ulwan disebutkan bahwa Rasulullah SAW sangat memperhatikan tentang 7 (tujuh) segi dalam mendidik anak, yaitu :

1.  Segi Keimanan

-   menanamkan prinsip ketauhidan, mengokohkan fondasiiman ;

-   mencari teman yang baik ;

-   memperhatikan kegiatan anak.

2.  Segi Moral

-   kejujuran, tidak munafik ;

-   menjaga lisan dan berakhlak mulia

3.  Segi Mental dan Intelektual

-   mempelajari fardhu ‘ain dan fardhu kifayah ;

-   mempelajari sejarah Islam ;

-   menyenangi bacaan bermutu yang dapat meningkatkan kualitas diri ;

-   menjaga diri dari hal-hal yang merusak jiwa dan akal

4.  Segi Jasmani

-   diberi nafkah wajib, kebutuhan dasar anak seperti makanan, tempat tinggal, kesehatan, pakaian danpendidikan ;

-   latihan jasmani, berolahraga, menunggang kuda, berenang, memanah, dll ;

-   menghindarkan dari kebiasaan yang merusak jasmani

5.  Segi Psikologis

-   gejala malu, takut, minder, manja, egois dan pemarah

6.  Segi Sosial

-   menunaikan hak orang lain dan setiap yang berhak dalam kehidupan ;

-   etika sosial anak

7.  Segi Spiritual

-   Allah selamanya mendengar bisikan dan pembicaraan, melihat setiap gerak-geriknya dan mengetahui apa yang dirahasiakan ;

-   memperhatikan khusu’, taqwa dan ibadah

Jika begitu banyak yang harus kita ajarkan pada anak, kapan waktu terbaik untuk memulai pendidikan kepadabuah hati ?

Simaklah beberapa hasil penelitian baru berikut ini :

1.  Fakta tentang otak :

a.   Saat lahir, bayi punya 100 miliar sel otak yang belum tersambung. Pada usia 0-3 tahun terdapat 1000 triliun koneksi (sambungan antarsel). Pada saat inilah anak-anak bisa mulai diperkenalkan berbagai hal dengan cara mengulang-ulang :

-   memperdengarkan bacaan Al Qur’ an ;

-   Bahasa Asing seperti bahasa Inggris ;

-   memperkenalkan nama-nama benda dengan cara bermaindan menunjukkan gambar ;

-   memperkenalkan warna dengan menunjukkan kepadanya dalam bentuk benda yang dia kenal, warna-warna cerah di kamarnya dan gambar ;

-   memperkenalkan aroma buah melalui buku ;

-   membacakan cerita atau dongeng

Pada usia 6 tahun, koneksi yang terus diulang (mengalami pengulangan – pengulangan) akan

menjadi permanen. Sedangkan koneksi yang tidak digunakan akan dipangkas alias dibuang.

Oleh karenanya, usia sebelum 6 tahun adalah saat yang tepat untuk mengoptimalkan daya

serap otak anak agar tidak terpangkas percuma.

b.   Otak yang belum matang rentan terhadap trauma, baik terhadap ucapan yang keras maupun tindakan yang menyakitkan. Susunan otak terbentuk dari pengalaman. Jika pengalaman anak takut dan stress, maka respons otak terhadap dua hal itulah yang akan menjadi arsitek otak sehingga dapat merubah struktur fisik otak. Itulah mengapa kita harus menghindarkan diri dari memarahi anak atau memukulnya. Jika anak kita melakukan kesalahan atau melakukan sesuatu yang tidak sopan, sebaiknyalah kita mulai mengajarkannya mana yang betul dan sopan santun dengan cara yang arif serta penuh kesabaran. Kita dapat mencontoh bagaimana Rasulullah saw. bersikap sangat penuh kasih sayang terhadap anak-anak.

c.    Otak terdiri dari dua belahan yaitu kanan dan kiri yang memiliki fungsi yang berbeda namun saling mendukung.

-   Pekerjaan otak kiri berhubungan dengan fungsi verbal, temporal, logis, analitis, rasional serta kegiatan berpola.

-   Pekerjaan otak kanan berhubungan dengan fungsi kreatif dan kemampuan bekerja dengan gambaran (visual) dan berfikir intuitif, abstrak dan non-verbal serta kemampuan taktil/motorik halus pada tangan, termasuk pembentukan akhlak dan moral.

Sistem pendidikan kita maupun ilmu pengetahuan pada umumnya cenderung kurang memperhatikan kepandaian yang tak terucapkan. Jadi, masyarakat modern cenderung menganaktirikan belahan otak kanan.

Menurut Bob Eberle, seorang ahli pendidikan, “prestasi pikiran manusia memerlukan kerja yang terpadu antara belahan kiri dan otak kanan”. Kalau tujuan kita adalah mengembangkan pribadi yang sehat dan jika kita ingin menumbuhkan kreativitas secara penuh, maka diperlukan pengajaran untuk menuju keseimbangan antara fungsi kedua belahan otak itu.

2.  Fakta tentang stress

a.   Anak yang mengalami stress pada usia kritis 0-3 tahun akan menjadi anak yang hiperaktif, cemas danbertingkah laku seenaknya.

b.   Anak dari lingkungan stress tinggi mengalami kesulitan konsentrasi dan kendali diri.

c.   Cara orang tua berinteraksi dengan anak di awal kehidupan akan membuat dampak pada perkembangan emosional, kemampuan belajar dan bagaimana berfungsi di kehidupan yang akan datang.

3.  Ciri-ciri anak pada milenium kedua :

-    mampu berpikir cepat ;

-    mampu beradaptasi dengan cepat dan benar ;

-    memiliki keimanan kuat sebagai filter ;

-    menguasai bahasa dunia ;

-    mampu menyelesaikan masalah dengan cepat ;

-    orang tua mempunyai 7 kebiasaan efektif.

Dilihat dari berbagai hasil penelitian di atas dapat diperoleh gambaran tentang waktu terbaik dalam memulai mendidik anak yaitu sedini mungkin. Juga bagaimana seharusnya sikap kita dalam menghadapi anak agar otaknya tidak mengalami trauma, serta dapat lebih meyakinkan kita lagi sebagai orang tua untuk terus menerus menambah ilmu agar dapat membantu anak mengembangkan potensi dirinya secara maksimal.

Satu pesan sederhana dalam mendidik anak, yang mungkin belum kita sadari sepenuhnya. Betapa banyak yang dapat kita ajarkan kepada anak kita tiap hari, hanya dengan berada di dekatnya. Dengan mengasuh, bermain dan bercakap-cakap dengan bayi kita yang mungil, kita bisa menjadi guru pertama bagi si kecil. Jangan lupa anak tumbuh dan berkembang sangat pesat, pakailah prinsip e it’s now or never e (kalau tidak sekarang berarti tidak sama sekali) dalam mendidik anak.

Wallahu a’lam bi showwab.
Ya Allah berikanlah berkat dan kemampuan kepada kami untuk mendidik, merawat dan mengasuh anak-anak kami. Amiin.

Oleh: Emmy Soekresno, S.Pd

Disampaikan pada

SEMINAR HARI ANAK NASIONAL
Jumat 28 Juli 2000
Auditorium Gedung B Lantai 2, Departemen Keuangan

Excusitis

Excusitis yang saya maksud dalam judul posting ini adalah sejenis penyakit pikiran yang merupakan penyakit kegagalan. Tiap kegagalan biasanya mengandung penyakit ini dalam berbagai intensitasnya. Dan setiap orang pada “umumnya” pernah atau sekurang kurangnya sedikit kejangkitan penyakit ini.

 

Semakin sukses seseorang, biasanya makin kurang dia mencari alasan (excuse). Tapi orang yang tidak sukses, karena tidak punya tujuan yang jelas, biasanya selalu mempunyai seribu alasan, untuk menjelaskan berbagai sebab kegagalan mereka.

 

Padahal kalau kita mempelajari kehidupan orang orang sukses, maka kita akan menemukan fakta bahwa sesungguhnya faktor faktor yang dijadikan alasan orang untuk tidak sukses, sebenarnya juga ada pada diri mereka yang sukses. Faktor yang paling sering dijadikan alasan diantaranya : umur, pendidikan, kecerdasan, keturunan, kesehatan, nasib dan sebagainya.

 

Andri Wongso bisa saja menjadi alasan “tidak tamat SD” sebagai hambatan kesuksesannya. Atau Eni Kusuma, Seorang penulis buku best seller “Anda Luar Biasa”, bisa saja mengatakan bahwa profesinya “hanyalah” seorang pembantu rumah tangga, sehingga dia tidak layak menjadi seorang penulis buku.

 

Namun mereka berdua ternyata tidak menjadikan itu sebagai alasan. Mereka justru mampu menjadikan itu sebagai salah satu sayap yang kuat untuk “terbang” bersama sukses dalam diri mereka.

 

Yang perlu kita perhatikan juga, seperti halnya penyakit yang lain, penyakit excusitis ini akan makin parah, kalau tidak diobati dengan tepat. Sekali orang dengan penyakit excusitis ini, menemukan “alasan yang tepat”, maka ia membuat alasan ini sebagai pegangan.

 

Kemudian dia akan menggunakan alasan ini untuk menjelaskan kepada diri sendiri dan orang lain kenapa ia tidak sukses. Setiap kali ia mengemukakan alasan tersebut , maka alasan itu makin menancap dalam alam bawah sadarnya.

 

Sayapun pernah menderita penyakit excusitis ini. Yang paling parah menurut saya adalah penyakit excusitis inteligensi atau kecerdasan. Penyakit ini cukup lama saya derita. Saya merasa diri saya tidak cerdas. Sementara untuk sukses saya melihat diperlukan kecerdasan yang tinggi. Akibatnya, saya meremehkan potensi otak saya dan menganggap inteligensi orang lain terlalu hebat. Saya menjadi rendah diri. Apalagi kalau melihat prestasi banyak teman saya yang luar biasa.

 

Namun akhirnya saya bersyukur, berkat pencerahan dari banyak buku dan motivasi dari para sahabat, sekarang saya makin menyadari potensi luar biasa yang masih “tertidur” dalam diri saya.

Menurut saya saat ini, cara berpikir yang membimbing inteligensi jauh lebih penting dari jumlah inteligensi itu sendiri. Sayapun terus berusaha untuk tidak lagi meremehkan kecerdasan yang diberikan Tuhan kepada saya. Saya selalu mencoba untuk bersikap yang terbaik, karena bagaimana sikap kita jauh lebih penting dari kecerdasan itu sendiri.

 

Tantangan saya saat ini adalah bagaimana memunculkan potensi luar biasa yang dianugerahkan kepada saya, dalam sebuah karya nyata, yang semoga saja akan memberikan manfaat, baik bagi diri saya sendiri maupun orang lain. Bagaimana pendapat Anda?

 

Salam

 

Faif Yusuf

Salah satu teknik pemecahan masalah (problem solving) yang relatif sederhana tapi ampuh adalah dengan mengajukan pertanyaan memakai 5W+1H, yaitu Why, What, Where, When, Who dan How. Dengan lima kata tanya ini maka kita akan berusaha menyelidiki atau memecahkan suatu masalah secara menyeluruh dari segala aspek. Ada juga cara yang lebih ampuh yaitu dengan teknik 5W (Five Why’s) yaitu dengan bertanya lima kali why secara bertingkat mengapa suatu peristiwa terjadi, sehingga akan ditemukan alasan utama atau penyebab dasar (root cause) terjadinya sesuatu (bukan hanya sekedar symptom atau gejala). 

 

Kedua teknik bertanya ini dipakai oleh para manajer, sejarawan, peneliti, ilmuwan atau siapapun untuk memecahkan berbagai persoalan dan terbukti cukup efektif untuk menemukan solusi.

 

Tetapi di dalam pengembangan pribadi, agar hidup kita bertumbuh, semakin berkualitas, dan memiliki tanggungjawab, maka kita perlu memilih pertanyaan-pertanyaan yang tepat, khususnya kepada diri sendiri (self talk) dan juga kepada orang lain. 

 

Marilah kita perhatikan beberapa contoh pertanyaan berikut ini :

 

“Mengapa anak buahku susah diatur ?”

 

“Mengapa hal ini terjadi padaku ?”

 

“Mengapa susah sekali menjual produk ini ?”

 

Pertanyaan-pertanyaan diatas akan membuat kita merasa tidak baik (feel bad), tak berdaya dan seolah-olah memposisikan diri kita sebagai korban keadaan. Pertanyaan-pertanyaan ini memiliki ‘aura’ negatif yang pada gilirannya akan menghadirkan sikap negatif pula buat kita.

 

Berikutnya mari kita ucapkan beberapa pertanyaan yang lain di bawah ini :

 

“Kapan harga produk kita bisa lebih bersaing ?”

 

“Kapan saya dapat menemukan orang-orang yang berkualitas ?”

 

“Kapan ia dapat lebih menghargai posisiku ?”

 

Pertanyaan-pertanyaan ini juga tak lebih baik karena akan memberikan kesan seolah-olah kita hanya bisa menunggu, menunda atau pasrah pada keadaan. Walaupun saya yakin Anda tidak bermaksud untuk menunggu atau menunda, tapi itulah yang kita tangkap dari pertanyaan-pertanyaan ini.

 

Dan mari kita simak satu jenis pertanyaan lagi berikut ini :

 

“Siapa yang menyebabkan masalah ini ?”

 

“Siapa yang bisa lebih baik dari saya ?”

 

“Siapa yang bisa menjelaskan visi perusahaan ?”

 

Sekali lagi, mari kita rasakan. Tanpa kita sadari bahwa dengan pertanyaan-pertanyaan ini sesungguhnya kita telah mencari ‘kambing hitam’, tidak mau introspeksi dan melemparkan tanggung jawab kepada pihak lain.

 

Apa arti ini semua ?” Kita perlu hati-hati dalam membuat pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan yang salah akan membuat kita merasa tak berdaya, pesimis, pasrah pada keadaan, semakin lari dari tanggungjawab dan menyalahkan orang lain, yang pada akhirnya akan membuat kita semakin jauh dari kesuksesan.

 

Kemudian marilah kita berpaling kepada pertanyaan-pertanyaan berikut :

 

“Apa yang dapat saya lakukan untuk memperbaiki situasi ?”

 

“Bagaimanakah caranya agar penjualan saya bulan ini bisa meningkat 10% ?”

 

“Apa benefit tambahan yang bisa saya tawarkan kepada customer ?”

 

“Bagaimana caranya agar saya lebih kreatif ?”

 

“Apa yang bisa saya kerjakan agar team ini menang ?”

 

“Bagaimana caranya agar prestasi saya bisa lebih baik ?”

 

Sekarang bagaimana rasanya ? Saya yakin dengan memakai kata “Apa” dan “Bagaimana”, Anda akan merasa lebih enak (feel good), lebih berdaya, dan lebih bertanggungjawab dibandingkan tiga jenis pertanyaan sebelumnya yang menggunakan kata “Mengapa”, “Kapan” dan “Siapa”.

 

John G. Miller dalam bukunya “The Question Behind The Question”, memberikan tips agar pertanyaan-pertanyaan Anda lebih berbobot sehingga bisa membuat Anda bertumbuh, lebih bertanggungjawab dan mampu mengubah kehidupan Anda ke arah lebih baik. Inilah tips nya :

 

a.. Mulai pertanyaan dengan “Apa” atau “Bagaimana”, bukan “Mengapa”, “Kapan” atau “Siapa”.

b.. Pertanyaan diusahakan mengandung kata “Saya”, bukan “Mereka”, “Kamu” atau “Kami”

c.. Berfokus kepada tindakan, misalnya mengandung kata-kata “melakukan”, “mencapai”, “membuat” atau yang sejenisnya.

 

 

Tips diatas bukan berarti kita tidak boleh membuat pertanyaan dengan memakai kata-kata “Mengapa”, “Kapan” atau “Siapa”. Tentu saja boleh-boleh saja menggunakan ketiga kata itu untuk menggali gagasan, melakukan analisis, memecahkan masalah atau melakukan tindak lanjut. Tetapi untuk melakukan perubahan dan tindakan yang positif, maka yang terbaik adalah memulai dengan “Apa” atau “Bagaimana”, memakai kata ganti orang pertama (“Saya”) dan action oriented.

 

Marilah mulai saat ini kita mengubah pertanyaan-pertanyaan kita dengan memakai formula diatas. Dengan mengubah pertanyaan, maka hidup Anda anda berubah. Wish You Luck. (SA).

 

Salam,

 

Sucipto

 


Hore,
Hari Baru!

Teman-teman.Salah satu keluhan manusia paling umum adalah tentang betapa murahnya kita dibayar. Keluhan ini muncul terutama ketika surat kenaikan gaji rutin kita terima. Betapa kenaikan take-home-pay itu tidak bisa mengimbangi kenaikan kebutuhan hidup kita. Meskipun komplain itu tidak selamanya jelek. Namun, untuk soal gaji kita perlu bertanya lagi; benarkah kita ini dibayar terlalu murah?
 

 

 


Ada sahabat yang getol mengomel tentang gaji. Suatu kali, kami  berkesempatan makan siang setelah sekian lama tidak berjumpa. Komplain itu masih menjadi bagian dari dirinya. Lalu saya bertanya; “Memangnya elo digaji berapa?” Sebuah pertanyaan untung-untungan. Tidak dijawab juga tidak apa-apa.


“Yaaa, sekitar segini lah.” Saya terbelalak karena dia begitu terbuka dengan gajinya, dan juga karena menurut hemat saya gajinya sudah tergolong besar untuk ukuran ekerjaan dan jabatan yang dia sandang.


“Pren, elu tahu rata-rata pendapatan orang Indonesia itu hanya sekitar $1,600 setahun. Artinya, cuma sekitar satu setengah juta setiap bulan. Lha, elo sudah lebih dari sepuluh kali lipat dari itu.”


“Heh, elo jangan anggap gue pekerja kelas bawah gitu ye. Ya nggak berlaku lah rata-rata pendapatan semua penduduk termasuk kelas pekerja kasar dikampung-kampung dan pelosok desa tuch!” dia menukas dengan nada sengit.


“Oke, oke,” saya mengangkat tangan. “Tapi, rata-rata pendapatan orang yang kerja di Jakarta pun cuma sekitar $5,167, Man. Empat setengah jutaan doang.” Mata saya tertuju kearah piring. Tapi saya tahu teman saya ini melotot. “Gaji elu masih berkali-kali lipat dari itu.”


“Heh, boy, udah gua bilang jangan pake rata-rata dong. Kemampuan gue juga kan diatas rata-rata!” katanya. “Dan elo juga sudah dibayar jaoooh diatas rata-rata,” tangkis saya.

 

“Ah, susah kali ngomong sama kau tuch!” Saya tidak kaget ketika dia menggebrak meja. Sifat aslinya keluar kalau sedang terdesak. “Orang harus dibayar sesuai dengan kemampuan dan kontribusinya masing-maaaasing!” Gayanya mirip Giant dalam film Dora Emon.


“Wah, kalau yang satu itu gue setuju abis, Man. Masalahnya, elu udah dibayar tinggi, masih komplen juga.” Saya bilang. “Atas dasar apa elu merasa pantas mendapatkan bayaran lebih tinggi?”


“Pertama, teman gue.” katanya “Diperusahaan lain dibayar lebih tinggi, padahal kemampuan gue nggak kalah dari dia.” lanjutnya. “Kedua, gue udah kerja disini lebih dari lima tahun. Maasak, cuma segini-segini doang!”


“Menurut gue,” saya meneguk teh botol. “ada satu cara yang lebih objektif untuk menentukan apakah elo dibayar terlalu murah atau tidak.”

“Gimana?”


“Caranya,” saya berhenti sejenak. “Elu harus menentukan satu hal. Yaitu; kalau elu tidak bekerja diperusahaan manapun, elu bisa mendapatkan penghasilan berapa?” Sesendok sayur bayam masuk kemulut saya. “Nah, kalau elu dibayar dibawah angka itu, maka elu dibayar terlalu murah. Jika tidak, artinya elu sudah mendapatkan bayaran yang layak.”


Saya tahu bahwa gagasan ini agak kurang lazim. Tetapi anehnya, meskipun kita tidak puas dengan bayaran yang kita terima, kita masih juga bercokol disitu. Pertanda bahwa sesungguhnya kita tidak memiliki dasar yang kuat untuk menuntut bayaran lebih dari itu. Sebab, jika kita benar-benar memiliki alternatif lain yang jauh lebih baik, tidaklah mungkin kita berdiam diri.


Mungkin, hengkang ketempat lain bisa jadi pilihan. Tidak aneh. Kalau perusahaan pesaing merekrut kita, pastilah mereka bersedia membayar ekstra dimuka. Karena, itu bagian dari strategy persaingan bisnis mereka. Kadang, perusahaan lama melakukan ‘buy back’ juga. Tapi hal ini tidak selalu bisa menggambarkan kemampuan dan kelayakbayaran kita sebagai individu secara utuh. Sebab, ada ‘benchmark’ disetiap industry. Artinya, selalu ada saat dimana gaji kita tidak bisa naik lagi kecuali kita layak untuk dipromosi kepada jabatan dan tugas yang lebih tinggi. Makanya, tidak aneh jika ada karyawan yang direkrut dengan bayaran awal yang tinggi, tapi kenaikan gaji berkalanya tak terlalu bermakna.


Sebaliknya, jika kita bisa menentukan; ‘berapa pendapatan yang bisa kita hasilkan jika tidak bekerja untuk perusahaan manapun’. Maka kita akan bisa menentukan ‘nilai’ kita yang sesungguhnya. Misalnya, jika kita bisa menghasilkan 30 juta sebulan, maka kita bisa bernegosiasi dengan manajemen untuk mendapatkan bayaran yang sekurang-kurangnya setara dengan itu. Mengapa kita harus bertahan disana, jika bayarannya jauh lebih rendah dari yang bisa kita hasilkan sendiri? Namun, jika perusahaan sudah membayar kita lebih tinggi dari itu; kita tahu apa artinya itu, bukan?.


Sahabat saya menggugat: “Kalau gua bisa kerja sendiri ngapain gua disini? Dari dulu gua pasti sudah berhenti! Gua disini, karena gua nggak bisa kerja sendiri!” Betul. Disitulah point utamanya. Kita  menyandarkan diri kepada perusahaan itu, tanpa ada alternatif lain yang lebih baik. Jika demikian situasinya, bukankah akan lebih baik jika kita berfokus kepada kontribusi yang bisa kita berikan ditempat  kerja? Tanpa harus terlebih dahulu berhitung-hitung soal gaji. Sebab, jika kita hanya bisa menjadi karyawan dengan prestasi rata-rata, mengapa perusahaan harus mengistimewakan kita?

 

Sebaliknya, jika memang kita berprestasi sangat tinggi; tidaklah mungkin perusahaan menyia-nyiakan kita. Bahkan, kenaikan gaji ‘tidak lazim’ mungkin bisa kita terima tanpa terduga. Dan, jikapun perusahaan tempat kerja kita benar-benar menutup mata; masih banyak perusahaan baik yang bersedia mempekerjakan kita, dengan bayaran yang sepantasnya. Asal kita bisa menunjukkan ’siapa sesungguhnya’ kita ini.


Hore,

Hari Baru!

Dadang Kadarusman

 

http://www.dadangkadarusman.com/Catatan Kaki: Komplain itu menghabiskan energi. Lakukan, hanya jika memang itu cukup berharga.
 

 

Tulisan Sebelumnya »