Ciri-ciri Manajemen Sumber Daya Manusia yang profesional berikut ini bukan hanya dipersyaratkan bagi manajer SDM saja, namun dapat juga dipakai bagi manajer atau manajemen lainnya.
1. Mengetahui yang diharapkan darinya
Yang pertama-tama menunjukkan seorang manajer adalah manajer profesional atau bukan adalah apakah ia tahu yang diharapkan oleh perusahaan darinya. Bagaimana caranya untuk mengetahui? Tentunya dengna menanyakan kepada calon atasannya diperusahaan tersebut dan lepada seluruh jajaran pimpinan lainnya. Ini yang oleh rekan-rekan kita orang pemasaran disebut “berorientasi pada kebutuhan konsumen”! Seorang manajer sumber daya manusia atau manajer apapun yang merasa dirinya termasuk kategori profesional akan selalu melakukan hal yang sama sebelum menerima sebuah tawaran posisi. Ini adalah salah satu ciri khusus yang membedakan seorang manajer profesional dan yang bukan.
2. Memiliki kemampuan yang “mumpuni”
Yang harus “diketahui” dan “bisa dilakukan” oleh seseorang yang disebut profesional tentunya harus mencapai tingkatan yang jauh lebih tinggi daripada mereka yang termasuk kelompok amatir atau yang biasa-biasa saja. Seorang petinju profesional lebih tahu banyak tentang strategi bertinju dan berlaga untuk sepuluh ronde. Seorang petinju amatir hanya berlaga untuk tiga ronde! Dengan kata lain, seorang profesional harus mempunyai kemampuan yang “mumpuni” ada aspek lain yang tidak kalah pentingnya dengan kemampuan, yaitu sikap mental yang akan dijelaskan kemudian.
3. Mengetahui “harga-nya” sendiri
Seorang manajer profesional sadar betul bahwa “ia” pengetahuannya, dan keahliannya mempunyai “harga” tertentu sesuai dengan harga pasarannya. Seorang manajer profesional akan mencapai suatu tingkatan dimana ia tidak lagi dalam posisi melamar pekerjaan tetapi ia yang akan dilamar. Manajer profesional yang mencapai tingkatan ini akan mengetahui “harga” yang melekat padanya. Ia tidak lagi akan pusing dengan job grade (golongan atau kelas) dari jabatan yang didudukinya tapi yang penting untuknya adalah apakah “rupiah-nya” kompetitif atau tidak. Di Indonesia sudah banyak yang mencapai tingkatan seperti itu.
Persyaratan Kompetensi Manajemen Sumber Daya Manusia Profesional
Profil kompetensi seorang manajer/direktur sumber daya manusia profesional dapat digambarkan dibawah ini. Elemen-elemen kompetensi akan dibagi dalam empat kelompok, yaitu: “Pengetahuan inti” (core knowledges); Pengetahuan ekonomi, Bisnis dan sosial; keterampilan probadi; serta sistem nilai dan sikap. Dalam menjelaskan profil kompetensi ini, penulis menggunakan kode-kode yang dijelaskan dibawah ini sebagai tingkat dari penguasaan pengetahuan dan keterampilan.
A (Apresiasi) = mempunyai pengetahuan yang cukup untuk melibatkan diri dalam percakapan yang “cerdas” sehingga manajer sumber daya manusia tidak dijadikan “kambing congek”.
B (Praktisi) = bisa menggunakannya atau melakukannya sebagai bagian dari tugas/pekerjaannya sehari-hari.
C (Expert) = mencapai tingkatan ahli! Ia bukan hanya mempraktekkan dalam pekerjaannya tapi juga bisa/mampu mengajar orang lain dan bisa menjadi nara sumber bagi orang lain.
KELOMPOK I – Pengetahuan Inti Untuk Jabatan Ini
1. Manajemen sumber daya manusia (tingkat kehandalan P atau E)
Pengetahuan manajemen sumber daya manusia tentunya mencakup semua kegiatan yang tercakup dalam ruang lingkup manajemen sumber daya manusia, rekrutmen, seleksi, sistem imbalan dan ganjaran, pelatihan, pengembangan, pemeliharaan, hubungan industrial dan perburuhan, keselamatan dan kesehatan kerja, dan pelepasan.
2. Rancangan struktur organisasi (tingkat penguasaan P)
Masih banyak sekali “manajer sumber daya manusia” yang tidak memiliki pengetahuan mendalam tentang teori struktur organisasi. Yang paling banyak bisa mereka lakukan adalah menggambar “kotak-kotak: yang biasa disebuut sebagai “bagan organisasi” (organization chart). Tetapi kaitan kotak-kotak dengan alokasi tanggung jawab dan wewenang, atau dengan hubungan-hubungan organisasional formal dan informal kurang mereka pahami, apalagi kaitan strategi bisnis dengna struktur dan jenis-jenis struktur. Adalah tidak heran bila banyak diantara mereka yang sering tidak dilibatkan dalam perancangan struktur organisasi perusahaannya!
3. Peraturan perundangan yang berlaku, hubungan industrial dan perburuhan (tingkat penguasaan antara A dan P)
Pengelolaan sumber daya manusia dan khususnya urusan ketenagakerjaan adalah urusan yang sangat diatur oleh pemerintah negara manapun, apalagi yang menyangkut bidang hubungan industrial dan hubungan perburuhan. Oleh karena itu, semua orang yang beraspirasi untuk berkiprah dalam bidang manajemen sumber daya manusia harus memiliki pengetahuan cukup mendalam mengenai semua undang-undang dan peraturan pemerintah yang relevan dan berlaku dalam bidang manajemen sumber daya manusia. Orang yang mempunyai latar belakang pendidikan ilmu hukum tentunya mempunyai keuntungan dalam bidang ini.
4. Perilaku manusia dalam organisasi (tingkat penguasaan P)
Ini adlah cabang dari ilmu perilaku atau barangkali lebih dikenal sebagai Psikologi. Yang menjadi obyek pekerjaan manajemen sumber daya manusia adalah manusia maka mereka yang berkiprah dalam bidang ini terutama yang latar belakang pendidikannya bukan psikolog sebaiknya mempelajari pengetahuan tentang organizational behavior, yaitu “perilaku dalam organisasi”. Sayang nya masih banyak orang yang menganggap bahwa pengetahuan tersebut adalah “hak ekslusif” dari para psikolog. Topik yang paling populer diantara kelompok orang-orang yang mempunyai pendapat tersebuut adalah teori motivasi dari Maslow!
5. Sistem informasi manajemen sumber daya manusia (tingkat penguasaan A atau P)
Bidang ini mendapat popularitas yang cukup besar dalam masa limabelas tahun terakhir dan didukung oleh kemajuan dalam teknologi informasi pengolahan data. Penguasaan sistem informasi manajemen sangat membantu untuk mengolah data kepegawaian untuk berbagai tujuan, misalnya untuk perencanaan, pembuat keputusan, dan untuk pengendalian.
KELOMPOK II – Pengetahuan yang Relevan dan Penting
1. Ekonomi nasional, regional dan internasional (tingkat penguasaan A + + )
Seorang manajer sumber daya manusia memiliki pengetahuan yang cukup lumayan tentang teori ekonomi makro dan perkembangan perekonomian yang real. Ekonomi adalah salah satu lingkungan organisasi bisnis yang stratejik dan perubahan yang terjadi didalamnya akan memberikan dampak langsung pada visi dan strategi perusahaan. Dampak tersebut bukan hanya datang dari perubahan yang terjadi dalam ekonomi nasional tetapi juga dari perubahan yang terjadi dalam perekonomian regional dan internasional.
2. Lingkungan stratejik organisasi bisnis (tingkat penguasaan A + )
Topik elemen lingkungan abstrak yang mengelilingi sebuah organisasi telah dibahas dibagian 2. yang pasti, perubahan-perubahan atau lebih tepat perkembangan yang terjadi pada elemen-elemen lingkungan tersebut akan selalu mempunyai dampak cukup besar terhadap organisasi termasuk organisasi bisnis. Apabila organisasi tersebut tida mewaspadai perubahan-perubahan yang terjadi, eksistensinya dapat berakhir.
3. Struktur industri (tingkat penguasaan A + +)
Struktur industri adalah gambaran sektor-sektor industri dimana perusahaan tempatnya bekerja tersusun, yaitu industri-industri yang berada dihulu, dihilir, dan yang berada pada garis paralel. Pengetahuan ini perlu karena dapat dimanfaatkan dalam kegiatan rekrutmen dan bila melakukan benchmarking (survei) imbalan.
4. Kegiatan perusahaan tempatnya bekerja (tingkat penguasaan A + + +)
Sangat disesalkan bila seorang manajer/direktur sumber daya manusia sebuah perusahaan tidak memiliki pengetahuan yang cukup mendalam tentang kegiatan bisnis. Kegiatan operasional ini mungkin berupa seluruh rangkaian proses produksi barang, jasa, atau niaga, serta kegiatan operasional tiap-tiap bidang atau fungsi dalam perusahaannya.
5. Dasar-dasar manajemen umum (tingkat penguasaan P)
Sejalan dengan definisi Wayne dan Mondy bahwa manajemen sumber daya manusia adalah penerapan manajemen pada tiap kegiatan dalam pengelolaan sumber daya manusia, pengetahuan manajemen umum tentunya harus dikuasai oleh seorang manajer sumber daya manusia. Selain itu, sebagai seorang manajer yang memimpin sebuah unit kerja, selayaknya ia memiliki kemampuan tersebut sampai tingkat yang cukup tinggi sebagai seorang praktisi. Secara lebih tegas, ia harus mampu membuat sasaran dan rencana kerja, mengorganisasi satuan (unit) kerjanya, memantau kemajuan, dan melakukan evaluasi hasil kerja.
6. Manajemen stratejik, perumusan, visi, misi, dan strategi (tingkat penguasaan A + + +)
Sebagai anggota Tim Manajemen Senior “puncak”, seorang manajer/direktur sumber daya manusia akan selalu harus terlibat atau dilibatkan dalam perumusan visi, misi, dan strategi perusahaannya. Oleh karena itu, paling sedikit ia harus punya pengetahuan tentang arti visi dan misi yang benar dan tentang konsep serta teknis analisis “SWOT” (Kekuatan, Kelemahan, Peluang, dan Ancaman) dan khususnya perumusan strategi bisnis.
7. Manajemen keuangan dan akuntansi biaya (tingkat penguasaan A + + +)
Seorang direktur atau manajer sumber daya manusia yang melapor langsung pada Presiden Direktur biasanya harus terlibat dalam pembahasan tentang kinerja finansial perusahaan. Ia bahkan harus ikut hadir dalam rapat-rapat Dewan Komisaris dan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Oleh karena itu, seorang manajer/direktur sumber daya manusia juga dituntut untuk memiliki pengetahuan cukup tentang bagaimana menyusun Laporan Keuangan dan Neraca Perusahaan dan mampu menafsirkannya. Ia juga perlu memiliki pengetahuan tentang komposisi biaya operasional perusahaan, elemen-elemen biaya yang dominan, dan berapa % biaya tenaga kerja dibandingkan biaya keseluruhan. Akhirnya yang juga sangat penting bagi seorang manajer sumber daya manusia adalah pengetahuan dan kemampuan membuat analisis biaya dan manfaat (cost & Benefits Analysis). Setiap usulan yang diajukannya seharusnya disertai dengan perhitungan biaya dan manfaat yang akan diperoleh sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara finansial.
8. Ilmu sosiologi (tingkat penguasaan A +)
Seorang manajer sumber daya manusia mengurusi manusia yang selalu menjadi anggota kelompok besar yang masyarakat dan hidup bermasyarakat. Walaupun sudah menjadi anggota “keluarga besar” sebuah organisasi, akan sukar sekali bagi seorang pekerja untuk melepaskan diri masyarakatnya. Nilai-nilai, kepercayaan, dan prinsip-prinsip yang dipegang oleh masyarakat dimana ia menjadi anggotanya akan selalu mempunyai pengaruh atas sikap dan perilakunya, termasuk perilaku kerjanya. Pengetahuan sosiologi ini juga akan membantu memahami perbedaan-perbedaan budaya etnis dan nasional untuk melakukan adaptasi yang perlu!
KELOMPOK III – Keterampilan Pribadi (Personal Skill)
Dalam kelompok ini, ada sejumlah kemampuan khusus atau spesifik yang harus dimiliki oleh manajer sumber daya manusia profesional. Bila mencemari kembali uraian tentang “Tanggung Jawab Pokok Manajer Sumber Daya Manusia”, sebenarnya rekrutmen, seleksi, pelatihan, dan sebagainya itu bukan tanggung jawab manajer/direktur sumber daya manusia dan perangkatnya melainkan tanggung jawab para pemimpin satuan kerja sendiri! Sebagai konsekuensi dari hal itu, peran manajer/ direktur sumber daya manusia sebenarnya lebih bersifat advisory atau penasihat dan pemberi jasa-jasa. Dalam posisi penasihat dan pemberi jasa, status manajer atau direktur sumber daya manusia tersebut adalah sama dengan seorang konsultan. Perbedaannya adalah bahwa mereka ini adalah “konsultan tetap” yang dibayar dengan gaji tetap tidak seperti “konsultan luar” yang dibayar atas dasar proyek atau pekerjaan yang dilakukannya.
Dengan peran, tanggung jawab, posisi, dan status seperti itu, manajer dan direktur sumber daya manusia hanya dapat mengandalkan diri pada keahlian (expertise) mereka dalam bidang manajemen sumber daya manusia dan ciri “pribadi” mereka sendiri. Bila dapat membuktikan bahwa ia mempunyai pengetahuan dan keahlian yang cukup tinggi dan mumpuni untuk jabatan yang diembannya, orang lain akan mau “mendengarkan” mereka. Tetapi dengan hanya menyandarkan diri pada “keahlian” tersebut sebenarnya tidaklah cukup untuk sukses dalam kiprahnya. Ia masih harus memiliki kemampuan-kemampuan khusus secara cukup piawai terutama kemampuan untuk “menjual diri” agar diterima dan didengarkan oleh orang-orang lain dalam organisasinya, terutama yang menjadi “klien”-nya. Jenis-jenis kemampuan khusus tersebut akan diuraikan dibawah ini secara ringkas saja karena penulis menganggap bahwa Anda mengetahui substansi dari tiap pengetahuan tersebut. Kemampuan-kemampuan khusus tersebut adalah sebagai berikut:
1. Teknik komunikasi dasar(tingkat penguasaan minimal P)
Adalah sebuah kerugian yang sangat besar bagi seorang manajer sumber daya manusia bila tidak memiliki kemampuan berkomunikasi secara piawai. Pesan-pesan atau hal-hal yang dikomunikasikannya tidak dapat dipahami oleh orang yang diajaknya bicara atau justru caranya berkomunikasi yang menjadikannya tidak dipahami. Keahlian “komunikasi” yaitu kemampuan menyampaikan dan menerima pesan secara efektif, adalah kemampuan utama yang harus dimiliki oleh setiap orang yang bekerja dalam sebuah organisasi. Sayangnya, bahwa masih banyak manajer yang menganggap bahwa setiap orang yang berpendidikan lumayan pasti otomatis memiliki kemampuan komunikasi yang juga lumayan. Selain itu, banyak juga manajer masih bergaya feodalistik dan otoriter sehingga adalah kewajiban “bawahan” dan orang-orang yang posisinya lebih rendah untuk mengerti yang disampaikan. Maka, keahlian komunikasi sebenarnya adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain termasuk rekan-rekan sekerja dan atasannya sendiri! Sebuah implikasi penting dari status dan posisi manajer sumber daya manusia sebagai “konsultan” adalah bahwa mereka sama sekali tidak mempunyai power atau kekuasaan untuk memaksa “klien”-nya melakukan yang menurutnya harus dilakukan. Mereka sepenuhnya harus mengandalkan diri pada dua sumber kekuatan mereka sendiri, yaitu keahlian (expertise power) dan kepribadian (personal power).
Dengan kata lain, seorang manajer/direktur sumber daya manusia tidak dapat membuat sebuah kebijakan dalam salah satu bidang manajemen sumber daya manusia, membuat sistem dan prosedurnya, dan kemudian mengumumkannya untuk dilaksanakan oleh semua jajaran organisasi. Ia harus lebih dahulu mendapatkan persetujuan dan dukungan semua pimpinan fungsional atau satuan kerja lainnya agar programnya benar-benar dilaksanakan. Memang benar, bisa saja seorang manajer dan direktur sumber daya manusia “bersembunyi” dibelakang Presiden Direktur dan menggunakan power beliau, tetapi cara seperti itu tidak akan bersifat langgeng. Pejabat lain akan mengikuti kebijakan yang diterapkan tetapi dengan setengah hati dan dapat pula terjadi pembangkangan secara terang-terangan.
2. Melakukan negosiasi (tingkat penguasaan E)
Sebagai konsultan, penasihat, dan wakil perusahaan seorang manajer atau direktur sumber daya manusia profesional harus terus-menerus melakukan negosiasi. Hampir tiada hari baginya tanpa negosiasi. Negosiasi pada dasarnya adalah sebuah “forum” komunikasi “jual beli” yang obyeknya dapat berkisar pada “harga” atau pada sebuah solusi. Dalam negosiasi, dapat pula terjadi “tawar-menawar” yang biasanya bersifat menguntungkan kedua belah pihak atau win-win solution. Teknik negosiasi dapat dan harus dipelajari denngna sungguh-sungguh karena mencakup aspek-aspek strategi, teknik negosiasi, dan aspek psikologis.
3. Teknik presentasi bisnis dan membuat laporan tertulis (tingkat penguasaan P)
Presentasi adalah sebuah kegiatan komunikasi lisan yang dewasa ini tidak dapat dihindarkan oleh seorang manajer diperusahaan besar. Teknnik presentasi adalah gabungan antara teknnik berbicara dimuka umum dan pemaparan sebuah laporan atau usulan secara lisan dan formal. Presentasi atau pemaparan informasinya sendiri dewasa ini dengna mudah dapat dibantu dengan teknologi modern melalui penggunaan perangkat lunak komputer dan proyektor LCD sehingga sangat membantu keefektifannya dan memberi kesan canggih! Kepiawaian berbicara dimuka umum adalah sebuah modal untuk menjadi presenter yang piawai, meskipun presentasi bisnis tidaklah sama dengan melakukan orasi politik atau ilmiah! Tetapi, kepiawaian untuk mempengaruhi audiens dan teknik berbicara dimuka umum harus tetap dipelajari dan dilatih bersamaan dengan teknik memilih, memilah, dan menyajikan informasi secara tepat dan menarik.
4. Kemampuan analistis (tingkat penguasaan P)
Kemampuan analistis adalah kemampuan untuk melakukan analistis atas data dan informasi yang diterima oleh otak kita. Oleh karena itu, kemampuan analistis sering dikaitkan dengan “kemampuan otak”. Kemampuan analistik bukanlah kemampuan yang harus dimiliki sejak lahir. Kemampuan tersebut dapat dilatih dengan membiasakannya melakukan pemilahan dan pemilihan data, mengolah, dan menginterprestasikannya. Latihan dapat dilakukan dengan membiasakan “menggambarkan” semua isi pikiran diatas kertas kosong dan melakukan pemetaan (mapping) tentang semua kemungkinan yang terjadi!
5. Bahasa inggris (bisa ditambah satu dengan bahasa asing lainnya)
Seorang manajer/eksekutif, termasuk manajer sumber daya manusia, yang tidak menguasai bahasa inggris dengan cukkup fasih dalam era globalisasi sekarang ini, dapat dikatakan tidak akan mempunyai peluang untuk memperoleh kemajuan dalam karirnya! Pernyataan keras ini bukan hanya berlaku bagi mereka yang bekerja pada perusahaan asing tetapi juga yang bekerja pada perusahaan nasional. Kemampuan berbicara dalam bahasa inggris juga harus didukung dengan kemampuan menulis dan membaca yang baik dan efisien. Tanpa penguasaan bahasa inggris, akan sukar sekali bagi manajer dan eksekutif untuk menyerap informasi-informasi baru yang dapat diperoleh dari media cetak atau elektronik. Apalagi untuk mengikuti perkembangan ilmu, konsep dan teknik baru yang relevan yang mau tidak mau kita akui masih tetap datang dari negara-negara maju!
KELOMPOK IV – Sistem Nilai dan Sikap
Nilai (value) dalam konteks ini adalah yang diberi nilai tinggi oleh seseorang dalam hidup dan dalam bekerja. Yang dimaksud dengan “sistem nilai” adalah urutan-urutan derajat pentingnya “nilai-nilai” tersebut atau dapat pula disebut “skala prioritas”. Secara eksplisit ataupun implisit, tiap perusahaan telah menetapkan nilai-nilai yang harus dijadikan acuan atau paduan bersama bagi semua manajer dan karyawannya. Lebih jauh lagi, setiap profesi juga mempunyai seperangkat nilai-nilai tertentu yang biasanya disebut kode etik profesi yang harus dijadikan acuan oleh orang yang memilih profesi tersebut. Seorang manajer atau pelaku profesi lain disebut sebagai profesional atau tidak profesional dapat dinilai dari sejauh mana ia mematuhi kode etik profesinya. Inilah sebenarnya intisari dari artikel yang penulis memuat pada awal bagian ini. Sistem nilai dan sikap seorang manajer sumber daya manusia profesional adalah sebagai berikut:
1. Kebutuhan aktualisasi diri yang kuat serta menghargai prestasi tinggi dan keuunggulan
Seorang profesional dituntut untuk selalu ingin mencapai prestasi yang tinggi demi kepuasannya sendiri. Bagaimana ia dapat mendorong orang lain berprestasi bila ia sendiri memble aje kata anak jakarte!
2. Integritas moral yang tinggi
Awal sebuah kehancuran bagi karir seorang profesional adalah apabila ia terbukti tidak dapat menjaga integritas moralnya. Imbalan yang diterima seorang manajer sumber daya manusia profesional dewasa ini sebenarnya sudah dapat membuatnya hidup cukup nyaman sebagai warga kelas menengah walaupun tidak akan membuatnya jadi kaya! Oleh karena itu, mereka yang cita-citanya menjadi kaya seharusnya memilih mejadi pengusaha atau enterpreneur. “Pelanggaran” yang paling sering terjadi adalah memasukkan anggota keluarga sendiri sebagai karyawan perusahaan atau “pembengkokkan” peraturan perusahaan untuk sekelompok atau seorang karyawan tertentu yang mempunyai hubungan dekat dengannya! Bila hal ini sudah ia lakukan, bagaimana mungkin ia dapat melarang orang untuk melakukannya?
3. Senang belajar dan mencoba konsep baru
Seorang manajer sumber daya manusia profesional seharusnya selalu memutakhirkan ilmunya atau istilah populer para konsultan adalah me-recharge kembali baterainya. Mereka yang tidak suka belajar walaupun hanya membaca majalah, jurnal, atau buku akan segera “ketinggalan zaman” dan menjadi katak dalam tempurung!
4. Bersedia menerima dan menjadi agen perubahan
Seorang manajer profesional harus mengetahui dan menyadari betul bahwa lingkungan stratejik berubah dengan sangat pesat. Para manajer harus selalu siap menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut dan turut aktif dalam melaksanakan perubahan yang dirancang mengikuti perubahan dalam visi, misi, dan strategi perusahaannya.
5. Senang bekerja dalam tim
Seorang manajer atau direktur sumber daya manusia adalah anggota sebuah tim besar yang mengarahkan jalannya perusahaan. Sebagai seorang manajer, ia juga harus memimpin timnya sendiri yang menangani bidang sumber daya manusia. Pada saat yang bersamaan, ia juga harus mendorong penngembangan semangat kerja dalam tim didalam seluruh jajaran organisasi perusahaannya.
6. Bersikap “merakyat”
Sikap ini sangat terkait dengan budaya organisasi tempatnya bekerja. Bila budaya perusahaannya “berbau feodalistik”, akan akan terlihat perbedaan-perbedaan dalam perlakuan terhadap karyawan pimpinan dan karyawan bawahan. Bila seorang manajer sumber daya manusia sudah dihinggapi sikap dan sistem feodal, akan sukar baginya untuk bersikap “merakyat” dan bergaul secara akrab dengan semua tingkatan tanpa membeda-bedakan status dan kedudukan dalam perusahaannya.
7. Fleksibel dalam pergaulan lintas budaya
Bukan hanya bagi mereka yang bekerja dalam lingkungan perusahaan multinasional, tetapi dalam perusahaan nasionalpun keperluan untuk memiliki pengetahuan tentang perbedaan budaya dan kemampuan untuk berinteraksi lintas budaya sangatlah penting. Akan sukar bagi seorang manajer sumber daya manusia untuk bekerja dalam lingkungan budaya yang berbeda dengan budayanya sendiri bila ia tidak memiliki sensitivitas dan fleksibilitas yang diperlukan.
Sumber : Anonymous
ooh gt toch,pengetahuan apa saja ya yg harus dimiliki oleh seorang manajer itu?